Teori Kebudayaan
Secara umum kebudayaan banyak diartikan sebagai hasil karya manusia yang lahir
dari cipta, rasa dan karsa. Berikut ada empat teori dan pendekatan kebudayaan,
yaitu:
1. Memandang kebudayaan sebagai kata benda : Dalam arti lewat produk budaya
kita mendenifisikan dan mengelola kebudayaan itu. Teori produk budaya ini juga
penting karena semua hasil budaya yang ada di muka bumi merupakan produk budaya
kolektif manusia. Identitas budaya dapat dilihat dari pendekatan ini.
2. Memandang kebudayaan sebagai kata kerja : Pendekatan ini dikemukakan oleh
Pleh Van Peursen. Pendekatan ini juga penting untuk dipahami, karena akan mampu
menjelaskan kepada kita bagaimana proses-proses budaya itu terjadi di tengah
kehidupan kita. Produk-produk budaya yang kita pahami lewatpendekatan pertama
di atas ternyata juga menyiratkan adanya proses-proses budaya manusia yang oleh
Van Peursen disebut ada tiga terminal proses budaya. Kehidupan mistis dimana
mitos berkuasa, atau kuasa mitos mengemudikan arah kebudayaan suatu masyarakat,
dilanjutkan dengan hadirnya kehidupan ontologis dan yang terakhir adalah
kehidupan fungsional yang hari-hari ini lebih mendominasi kehidupan budaya kita.
3. Memandang kebudayaan sebagai kata sifat : Ini untuk membedakan mana
kehidupan yang berbudaya dan tidak berbudaya, membedakan antara kehidupan
manusia yang berbudaya dan makhluk lain seperti hewan dan benda-benda yang
tidak memiliki potensi budaya. Dalam memandang kebudayaan sebagai kata sifat
maka unsur nilai-nilai menjadi sangat penting. Kebudayaan dikonstruksi sebagai
konfigurasi nilai-nilai atau sebagai kompeksitas nilai-nilai yang kemudian
beroperasi pada berbagai-bagai level kehidupan. Konfigurasi nilai yang dimiliki
berbagai komunitas budaya yang berbeda kemudian melahirkan konstruksi budaya
yang berbeda-beda pada komunitas budaya itu.
4. Memandang kabudayaan sebagai kata keadaan : Kondisi-kondisi budaya tertentu
menjadi menentukan wajah kebudayaan.
Gerak Kebudayaan
Gerak kebudayaan adalah gerak manusia yang hidup dalam masyarakat yang menjadi
wadah kebudayaan tadi. Gerak manusia terjadi oleh sebab hubungan-hubungan yang
terjadi antar terjadi kelompok masyarakat. Kebudayaan suatu kelompok manusia jika
dihadapkan pada unsur-unsur suatu kebudayaan asing yang berbeda, lambat laun
akan diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan
hilangnya kepribadian manusia itu sendiri. Proses itu dinamakan akulturasi.
Dalam proses akulturasi ada unsur-unsur kebudayaan asing yang mudah diterima
seperti: unsur kebendaan ( alat tulis menulis ), unsur-unsur yang membawa
manfaat besar untuk mass media ( radio transistor ) dan unsur yang mudah
disesuaikan dengan keadaan masyarakat yang menerima unsur-unsur tersebut (
penggiling padi yang dengan biaya murah serta pengetahuan teknis yang
sederhana. Sedangkan unsur-unsur kebudayaan yang sulit diterima misalnya: unsur
yang menyangkut kepercayaan ( ideologi, falsafah hidup ) dan unsur-unsur yang
dipelajari pada taraf pertama proses sosiologi (contoh : nasi ). Pada umumnya
generasi muda adalah individu yang dapat dengan cepat menerina unsur-unsur
kebudayaan asing yang masuk melalui proses akulturasi. Sebaliknya generasi tua,
lebih sukar. Hal ini disebabkan karena pada generasi tua, norma-norma yang
tradisional sudah internalized ( mendarah daging, menjiwai ) sehingga sukar
untuk mengubahnya.
Definisi Kepribadian
Sejak dahulu para ahli biologi yang mempelajari perilaku dan membuat pelukisan
tentang sistem organisme dari suatu spesies mulai dari prilaku mencari makan,
menghindari ancaman bahaya, menyerang musuh, beristirahat, mencari pasangan,
kawin dan lain-lain. Berbeda dengan organism hewan, organisme manusia juga
dipelajari oleh para ahli sampai pada hal yang terkecil. Namun hal itu tidak
dapat menentukan pola tingkah lakunya.
Pola-pola tingkah laku tersebut hampir semua tidak sama bahkan bagi semua jenis
ras yang ada di bumi. Hal tersebut tidak dapat diseragamkan karena seorang
manusia yang disebut homo sapiens bukan saja ditentukan oleh sistem organik
biologinya saja, namun dipengaruhi juga oleh akal dan jiwa sehingga timbul
variasi pola tingkah laku tersebut. Melihat hal tersebut, maka para ahli lebih
fokus kepada pola tindakan manusia. Dengan pola tingkah laku yang lebih khusus
yang ditentukan oleh nalurinya, dorongan-dorongan, dan refleksnya. Susunan
unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan tingkah laku atau tindakan seorang
individu disebut “ Kepribadian “. Dalam bahasa populer istilah kepribadian juga
berarti ciri-ciri watak yang konsisten, sehingga seorang individu memiliki
suatu identitas yang khas berbeda dengan individu yang lain. Konsep kepribadian
yang lebih spesifik belum bisa di definisikan sampai sekarang karena luasnya
cakupan dan sulit untuk dirumuskan dalam satu definisi sehingga cukup kiranya
untuk kita memakai arti yang lebih kasar sampai didapatkan definisi yang
sebenarnya dari para ahli psikologi.
Unsur – Unsur dan Aneka Warna
Kepribadian
Pengetahuan, unsur-unsur yang mengisi akal dan alam jiwa orang yang sadar,
terkandung di dalam otaknya secara sadar. Manusia memiliki panca indra yang
sebagai alat penerima dari setiap kondisi dan situasi di alam sekitarnya yang
mengalami proses fisik, fisiologi, psikologi sehingga getaran dan tekanan dari
alat penerima tersebut nantinya diproyeksikan atau dipancarkan kembali oleh
individu tersebut berupa gambaran lingkungan sekitar yang dalam ilmu
antropologi disebut “ Persepsi “. Penggambaran tersebut dapat menjadi bayangan
dimana individu tersebut berfokus.
Penggambaran tentang situasi dan kondisi lingkungan dengan fokus pada
bagian-bagian yang menarik dan mendapat perhatian lebih akan diolah oleh akal
dan dihubungkan dengan penggambaran yang sejenis dan diproyeksikan oleh akal
dan muncul kembali menjadi kenangan. Pengambaran baru dengan pengertian baru
dalam psikologi disebut “ apersepsi”. Penggambaran yang terfokus secara lebih
intensif yang terjadi karena pemusatan yang lebih intensif dalam psikologi
disebut “pengamatan”. Seseorang dapat menggabungkan dan membandingkan
bagian-bagian dari suatu penggambaran yang sejenis secara konsisten dan azas
tertentu. Dengan kemampuan proses akal tersebut membentuk penggambaran baru
yang abstrak yang tidak mirip dengan berbagai macam bahan konkret dari
penggambaran yang baru tadi. Penggambaran abstrak tadi dalam ilmu sosial
disebut “konsep”. Cara pengamatan yang secara sengaja dibesar-besarkan atau
ditambahi atau di kurangi pada bagian tertentu sehingga membentuk penggambaran
yang sangat baru yang secara nyata sebenarnya tidak pernah ada dan terkesan
tidak realistik disebut “fantasi“. Keinginan yang semakin menggebu-gebu untuk
mendapatkan sesuatu yang telah di gambarkan terlebih dahulu akan menimbulkan
suatu perasaan yang aneh dan tekanan jiwa
Seluruh penggambaran, apersepsi, persepsi, pengamatan, konsep, dan fantasi
merupakan unsur pengetahuan yang secara sengaja dimiliki seorang individu.
Namun semua itu bisa hilang dari akalnya yang sadar yang disebabkan oleh
berbagai hal yang sampai saat ini masih dipelajari oleh ahli psikologi. Unsur
pengetahuan tersebut bukannya hilang atau lenyap namun terdesak ke bagian
jiwanya yang dalam ilmu psikologi disebut “alam bawah sadar”.
Di alam bawah sadar tersebut, pengetahuan seseorang tercampur, terpecah-pecah
menjadi bagian yang tercampur aduk tidak teratur. Ini dikarenakan akal sadar
seseorang tidak mau menyusunnya dengan rapi sehingga adalakanya muncul sacara
tiba-tiba secara utuh atau terpotong bercampur dengan pengetahuan yang berbeda.
Adakalanya pengetahuan seseorang secara sengaja atau karena berbagai sebab
terdesak ke dalam bagian jiwa yang lebih dalam yang oleh ilmu psikologi disebut
“alam tak sadar”. Proses yang terjadi dalam alam bawah sadar banyak dipelajari
oleh ahli psikologi dan dikembangkan oleh S. Freud dalam ilmu psikoanalisa.
Selain pengetahuan, alam kesadaran manusia juga mengandung berbagai macam
perasaan. “Perasaan” adalah suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang karena
pengetahuannya dinilai sebagai keadaan yang positif atau negative. Suatu
perasaan yang bersifat subjektif karena adanya unsur penilaian tadi biasanya
menimbulkan “kehendak” dalam kesadaran seseorang. Perasaan atau keinginan yang
berdebar-debar tersebut disebut “emosi”. Kesadaran manusia juga mengandung
berbagai perasaan yang di pengaruhi oleh organismenya khususnya gen sebagai
naluri yang disebut “dorongan”. Sedikitnya ada 7 dorongan naluri yaitu :
1. Dorongan untuk mempertahankan hidup
2. Dorongan seks
3. Dorongan mencari makan
4. Dorongan untuk bergail / berinteraksi dengan sesame
5. Dorongan untuk menirukan tingkah laku sesamanya
6. Dorongan untuk berbakti
7. Dorongan untuk keindahan.
Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa kepribadian seseorang dibentuk oleh
pengetahuan yang dimilikinya dari penggambaran dunia sekitarnya serta fantasi
mengenai berbagai macam hal, juga ada materi yang menjadi objek dan sasaran
unsur kepribadian secara sistematis. Ada 3 hal yang merupakan isi keribadian
yang pokok yaitu :
1. Beragam kebutuhan organik diri sendiri, kebutuhan dan dorongan psikologi
diri sendiri, serta dorongan organik maupun psikologi sesama manusia selain
diri sendiri
2. Beragam hal yang bersangkutan dengan kesadaran individu akan identitas diri
sendiri dari aspek fisik, psikologi, yang menyangkut kesadaran individu.
3. Beragam cara untuk memenuhi, memperkuat, berhubungan, mendapatkan atau
menggunakan beragam kebutuhan sehingga tercapai rasa kepuasan dalam memenuhi
kebutuhan tersebut.
Aneka ragam kepribadian individu dan
Kebudayaan
Adanya beragam struktur kepribadian manusia disebabkan adanya beragam isi dan
sasaran dari pengetahuan, perasaan, kehendak dan keinginan kepribadian serta
perbedaan kualitas hubungan antar berbagai unsur kepribadian dalam kesadaran
individu. Mempelajari materi dari setiap unsur kepribadian merupakan tugas
psikologi yang berupa kebiasaan / habit atau berbagai macam materi yang
menyebabkan timbulnya kepribadian.
Kebiasaan ( Habit)
Adat istiadat (custom)
Sistem social(social system)
Kepribadian individu ( individual personality )
Kepribadian umum ( modal personality )
Kebiasaan, adat dan kepribadian
Karena materi yang merupakan isi
dari pengetahuan dan perasaan seorang individu berbeda dengan individu yang
lain, dan juga sifat serta intensitas kaitan antara beragam bentuk pengetahuan
maka setiap manusia memiliki kepribadian yang khas. Dari berbagai jenis
kepribadian tersebut telah diringkas menjadi berbagai type dan sub type yang
merupakan tugas psikologi. Walaupun begitu, antropologi dan ilmu sosial lainnya
juga memperhatikan masalah kepribadian ini walaupun hanya memperdalam atau
memahami adat istiadat dan sistem sosial lainya. Ini dikarenakan ada hubungan
yang sangat jelas antara kepribadian individu atau kelompok dengan adat dan
kebudayaan suatu daerah. Dimana kebudayaan itu mempengaruhi pembentukan pola
kepribadian seorang individu.
Kepribadian umum
Para pengarang etnografi sering mencantumkan suatu pelukisan tentang watak atau
kepribadian umum dari para warga suatu kebudayaan dalam karyanya.pelukisan itu
didapat dari kesan yang diperoleh saat bergaul dengan individu yang diteliti.
Pergaulan inilah yang akan menimbulkan kesan yang nantinya secara umum akan
dipresentasikan dalam setiap karyanya. Abad ke 20 ada pakar psikologi A.
Kardiner, R Linton tahun 1930-an mengembangkan metode yang eksak untuk mengukur
kepribadian umum. Bahan etnografinya dikumpulkan Linton sedangkan Kardiner
menerapkan metode-metode psikologi dan menganalisa data psikologinya yang
dituangkan dalam karyanya “ The Individual And His Society”( 1938)
Mereka menemukan konsep basic personality structure atau kepribadian dasar
karena pada umumnya masyarakat mengalami pengaruh lingkungan kebudayanaan yang
sama selama pertumbuhan. Pembentukan watak banyak dipengaruhi oleh pengalaman
hidupnya dari kecil. Juga dengan pengaruh kebiasaan yang tertanam dari sejak
kecil karena terus mengikuti adat dan norma yang telah ditetapkan. Metode
penelitian kepribadian umum dengan cara mempelajari adat istiadat pengasuhan
anak terus dikembangkan sehingga berkembang menjadi bagian antropologi yan
dinamakan personality and culture.
Kepribadian dan Kebudayaan Barat serta Kepribadian dan Kebudayaan Timur
Dalam banyak tulisan banyak dibahas tentang perbedaan kepribadian dari
kebudayaan barat dan timur. Konsep barat-timur dicetuskan pada pertengahan abad
19 ketika kolonialisme berkembang dari negara Eropa Barat. Kebudayaan bangsa
timur yang awalnya masih asli dan tradisional terus mendapat pengaruh terutama
setelah masuknya system pendidikan sekolah Eropa Barat. Mereka mengalami
perubahan menyusul masuknya pengaruh kebudayaan barat yang didsebut
modernisasi.
E. Mendidik agar Berbudaya
Di lingkungan sekolah, sering kita dengar sindiran ambon untuk menyebut salah
satu siswa, hanya karena ia berkulit hitam dan berambut keriting, atau sebutan
cina hanya karena matanya sipit, meskipun kedua murid itu belum tentu berasal
dari daerah seperti yang disebutkan. Ada pula sebutan londho, berasal dari
bahasa Jawa artinya Belanda, yang sering dialamatkan kepada anak-anak yang
menderita kekurangan pigmen (kandungan warna pada kulit), dengan tubuh berwarna
putih (kepucatan) dan rambut berwarna kuning (keputih-putihan). Karena fisiknya
itu, ia disama-rupakan dengan orang Eropa (Belanda).
Dalam bentuknya yang lebih vulgar, stigma serupa kadang-kadang bisa bersifat
memojokkan satu etnis/suku tertentu terhadap lainnya, seperti kasus berikut:
saat sedang berdiskusi dalam kelas, seorang anak berbicara agak keras, lalu
kemudian guru menegurnya dengan sedikit memberi saran, kalau berbicara itu yang
sopan, jangan terlalu keras. Kebetulan si murid tadi berasal dari Papua. Dan
pada kesempatan lain, secara kebetulan sang guru bertemu dengan para suporter
asal Papua yang sedang terlibat adu mulut dengan beberapa orang di jalanan.
Keesokan paginya di kelas,si anak Papua langsung masuk sang guru yang wajib
diwaspadai. Stigmatisasi Etnis: Antara kesalahan berpikir dan kurangnya wawasan
kultural
Stigma terhadap etnis tertentu sepertinya terlanjur menjadi konsumsi publik,
meskipun kadang tak ada hubungannya dengan asal muasal kedaerahan. Karena
terlalu sering digunakan, hampir tidak ada kesan diskriminatifnya. Penilaian
yang dilakukan semata-mata dilandasi oleh premis-premis sederhana, untuk
kemudian menarik kesimpulan, sebagaimana contoh di atas. Anak yang matanya
sipit adalah orang Cina, di kelas ada tiga murid etnis Cina yang matanya sipit,
maka semua murid yang sipit adalah orang Cina. Contoh lain; anak yang berbicara
keras adalah tidak sopan, ada 5 anak Papua yang bersuara keras-keras, maka
orang Papua adalah orang yang keras dan tidak sopan.
Setidaknya ada dua faktor yang melatarbelakangi munculnya stigmatisasi etnis.
Pertama,yang bersumber dari cara berpikir instant (fallacy of dramatic instance
). Yakni cara berpikir yang menghendaki kesimpulan yang cepat, dan selalu
tergoda untuk melakukan over-generalisation terhadap segala hal.
Overgeneralisasi dapat terjadi dalam pemikiran seseorang, sesuatu hal, atau
suatu tempat, dengan asumsi bahwa entitas-entitas tersebut akan selamanya sama
dan tidak mungkin berubah. Padahal, segalanya akan selalu berubah, sehingga hal
yang sama tidak bisa kita terapkan pada orang yang sama terus-menerus dan
selama-lamanya.
Kedua, problem overgeneralisasi juga bersumber dari kurangnya wawasan
kebudayaan yang dimiliki. Khususnya wawasan ke-nusantara-an kita akan
pluralitas kultur yang ada. Akibat minimnya pemahaman tentang budaya orang
lain, maka yang tersisa hanyalah sikap dan cara pandang yang bersifat tunggal
(monolitik). Dalam bentuk nya yang ekstrem dapat berwujud
etnosentrisme/sukuisme. Etnosentrisme atau sukuisme adalah sikap berlebihan
yang menganggap hanya etnis kelompok tertentu saja yang baik, benar dan unggul.
Adapun kelompok lainnya tidak. Dampak yang dihasilkannya bisa sangat fatal
akibatnya. Bayangkan saja jika generalisasi kasar dilakukan terhadap etnis
tertentu yang dianggap negatif sebagai; kasar, kotor, bermental buruk, atau
bahkan musuh, maka tidak jarang akan berujung pada konflik komunal.
Sejarah menunjukkan, pemaknaan secara negatif atas keragaman telah melahirkan
penderitaan panjang umat manusia. Pada saat ini, paling tidak telah terjadi 35
pertikaian besar antar etnis di dunia. Lebih dari 38 juta jiwa terusir dari
tempat yang mereka diami, paling sedikit 7 juta orang terbunuh dalam konflik
etnis berdarah. Pertikaian seperti ini terjadi dari Barat sampai Timur, dari
Utara hingga Selatan. Dunia menyaksikan darah mengalir dari Yugoslavia,
Cekoslakia, Zaire hingga Rwanda, dari bekas Uni Soviet sampai Sudan, dari
Srilangka, India hingga Indonesia. Konflik panjang tersebut melibatkan sentimen
etnis, ras, golongan dan juga agama.
Etnosentrisme atau sukuisme ternyata begitu kental dalam pergaulan sehari-hari.
Pandangan tentang keunggulan etnis tertentu atas lainnya sudah menjadi rahasia
publik. Disebut rahasia, sebab pengakuan keunggulan tersebut diakui secara umum
oleh masing-masing kelompok (etnis, suku, bahkan agama), meskipun secara
sembunyi-sembunyi.
Ada beberapa pendekatan dalam proses pendidikan multikultural, yaitu: Pertama,
tidak lagi terbatas pada generalisasi pandangan tentang pendidikan (education)
dengan persekolahan (schooling) atan pendidikan multikultural dengan
program-program sekolah formal. Pendidikan seharusnya dipahami sebagai
transmisi kebudayaan yang melibatkan banyak pihak untuk bertanggung jawab,
sebab program-program sekolah sesungguhnya terkait erat dengan pembelajaran
informal di luar sekolah.
Kedua, menghindari generalisasi pandangan tentang kebudayaan dengan kelompok
etnik. Artinya, tidak perlu lagi mengasosiasikan kebudayaan semata-mata dengan
kelompok-kelompok etnik sebagaimana yang terjadi selama ini. secara tradisional,
para pendidik mengasosiasikan kebudayaan hanya dengan kelompok-kelompok sosial
yang relatif (self sufficient), ketimbang dengan sejumlah orang yang secara
terus menerus berkembang dalam lingkungan sosialnya. Dalam konteks pendidikan,
pendekatan ini diharapkan melenyapkan kecenderungan memandang anak didik secara
stereotip menurut identitas etnik mereka dan akan meningkatkan eksplorasi
pemahaman yang lebih besar mengenai kesamaan dan perbedaan di kalangan anak
didik dari berbagai kelompok etnik.
Ketiga, mendorong terwujudnya “kebudayaan baru” yang tentunya membutuhkan
interaksi inisiatif dengan orang-orang yang sudah memiliki kompetensi. Dalam
hal ini, segala upaya untuk mendukung sekolah-sekolah yang terpisah secara
etnik sesungguhnya merupakan antitesis terhadap tujuan pendidikan
multikultural. Sebab, kehendak untuk mempertahankan dan memperluas solidarits
kelompok hanya akan menghambat sosialisasi ke dalam kebudayaan baru tersebut.
Keempat, pendidikan multikultural meningkatkan kompetensi dalam beberapa
kebudayaan. Kebudayaan mana yang akan diadopsi ditentukan oleh situasi.
Kelima, kemungkinan bahwa pendidikan (baik dalam maupun luar sekolah)
meningkatkan kesadaran tentang kompetensi dalam beberapa kebudayaan. Kesadaran
seperti ini kemudian akan menjauhkan kita dari konsep dwi budaya atau dikhotomi
antara pribumi dan non-pribumi, orang negri dan pendatang. Dikotomi semacam ini
hanya akan membatasi individu untuk sepenuhnya mengekspresikan diversitas
kebudayaan. Dengan pendekatan ini, kesadaran untuk menghindari dikotomi akan
semakin kuat, untuk selanjutnya mengembangkan apresiasi yang lebih baik melalui
kompetensi kebudayaan yang ada pada diri anak didik.
Pendidikan multikultural sepatutnya mampu mengubah segala perspektif serta
pandangan yang kini telah membeku; dari perspektif monokultural kepada yang
multikulturalis, dari yang penuh prasangka dan diskriminatif kepada penghargaan
terhadap keragaman dan perbedaan, toleran dan keterbukaan. Perubahan paradigma
semacam ini akan melenturkan kebekuan sikap dan kepribadian dalam hidup
bermasyarakat. Dan pada akhirnya akan menghasilkan anak didik yang
berkebudayaan dan berperadaban.
F. Hubungan Kepribadian Dengan
Kebudayaan
Menurut Roucek dan Warren, kepribadian adalah organisasi faktor-faktor
biologis, psikologis dan sosiologis yang mendasari perilaku individu. Faktor
biologis misalnya, sistem syaraf, proses pendewasaan, dan kelainan biologis
lainnya, sedangkan faktor psikologis adalah seperti unsur temperamen, kemampuan
belajar, perasaan, keterampilan, keinginan dan lain-lain. Dan yang terakhir,
adalah faktor sosiologis. Kepribadian dapat mencakup kebiasaan-kebiasaan, sikap
dan lain-lain yang khas dimiliki oleh seseorang yang berkembang apabila orang
tadi berhubungan dengan orang lain. Ketiga faktor di atas adalah faktor yang
dapat mempengaruhi kepribadian.
Seseorang yang sejak kecil dilahirkan sampai dewasa selalu belajar dari
orang-orang disekitarnya. Secara bertahap dia akan mempunyai konsep kesadaran
tentang dirinya sendiri. Lama-kelamaan perilaku-perilaku si anak akan menjadi
sifat yang nantinya menghasilkan suatu kepribadian. Berikut ini adalah beberapa
kebudayaan khusus yang nyata mempengaruhi bentuk kepribadian yakni:
1. Kebudayaan-kebudayaan khusus atas dasar faktor kedaerahan
Contoh: Adat-istiadat melamar di Lampung dan Minangkabau. Di Minangkabau
biasanya pihak permpuan yang melamar sedangkan di Lampung, pihak laki-laki yang
melamar.
2. Cara hidup di kota dan di desa yang berbeda ( urban dan rural ways of life )
Contoh: Perbedaan anak yang dibesarkan di kota dengan seorang anak yang
dibesarkan di desa. Anak kota bersikap lebih terbuka dan berani untuk
menonjolkan diri di antara teman-temannya sedangkan seorang anak desa lebih
mempunyai sikap percaya pada diri sendiri dan sikap menilai ( sense of value )
3. Kebudayaan-kebudayaan khusus kelas sosial
Di masyarakat dapat dijumpai lapisan sosial yang kita kenal, ada lapisan sosial
tinggi, rendah dan menengah. Misalnya cara berpakaian, etiket, pergaulan,
bahasa sehari-hari dan cara mengisi waktu senggang. Masing-masing kelas
mempunyai kebudayaan yang tidak sama, menghasilkan kepribadian yang tersendiri
pula pada setiap individu.
4. Kebudayaan khusus atas dasar agama
Adanya berbagai masalah di dalam satu agama pun melahirkan kepribadian yang
berbeda-beda di kalangan umatnya.
5. Kebudayaan berdasarkan profesi
Misalnya: kepribadian seorang dokter berbeda dengan kepribadian seorang
pengacara dan itu semua berpengaruh pada suasana kekeluargaan dan cara mereka
bergaul. Contoh lain seorang militer mempunyai kepribadian yang sangat erat
hubungan dengan tugas-tugasnya. Keluarganya juga sudah biasa berpindah tempat
tinggal.